Suhu AS Tembus -50 Derajat Celcius, Dampak Pemanasan Global?

Beberapa hari terakhir, wilayah Amerika Serikat adegan utara dihujani salju dengan temperatur suhu yang sangat dingin. Suhunya mencapai minus 50 derajat Celcius. Dan, tentu mampu bikin beku Negeri Paman Sam.

Banyak yang beranggapan peristiwa itu disebabkan oleh topan salju. Tapi, beberapa pengamat cuaca beranggapan bahwa fenomena ini disebabkan oleh sebuah fenomena alam yang disebut Polar Vortex (pusaran kutub).

Suasana kota di AS yang tengah dilanda polar vortex

Dilansir NBC News, hebat meteorologi dari The Weather Channel, Frank Giannasca menjelaskan polar vortex adalah sebuah pemikiran udara cuek besar yang berputar di puluhan ribu kaki di bawah atmosfer.

Namun beberapa ilmuwan mempunyai teori lain, hebat dari Weather Underground, Dr. Jeff Masters; dan profesor riset Institute of Marine and Coastal Sciences Rutgers University, Dr. Jennifer Francis, berpendapat kemungkinan cuaca itu diakibatkan pemanasan global.

Dilansir Weather, keduanya menerka suhu ekstrem itu diakibatkan dari perubahan jet stream. Jet Stream merupakan arus cepat angin bertekanan tinggi yang membatasi udara cuek Kutub Utara dan udara hangat pada adegan tropis.

Jet stream memainkan tugas utama pada contoh perubahan cuaca dan suhu ekstrem yang melanda AS,” ungkap peneliti.

Dalam beberapa tahun terakhir, pergerakan jet stream telah berubah signifikan dan membawa “cambukan” cuaca absurd dibandingkan pola-pola cuaca masa lalu.

Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti Francis telah menyoroti penurunan dramatis tingkat laut es Kutub Utara selama 30 tahun terakhir. Penurunan dramatis ini diduga karena jet stream yang semakin aneh.

Nah, ilmuwan menerka perubahan dramatis di wilayah kutub itu karena pencairan es di Kutub Utara. Ini membuat kutub mengalami pemanasan yang lebih tinggi dari seluruh penggalan Bumi adegan utara.

“Karena penyusutan es laut, sinar matahari yang seharusnya dipantulkan kembali ke angkasa oleh es malah diserap laut, yang kemudian makin memanas dan mencairkan es lebih banyak,” papar Francis, dalam artikel terbitan Maret 2012 di Yale360.

Selanjutnya, tambah dia, panas ekstra itu masuk ke hamparan luas air terbuka yang dulunya tertutupi es. “Panas ekstra itu kemudian dilepaskan ke atmosfer pada demam isu gugur,” ujar dia.

Sayangnya, panas ekstra yang disimpan di atmosfer malah mensugesti pada cuaca lokal maupun skala besar. Mengingat Kutub Utara memanas begitu cepat, perbedaan suhu antara kutub dan garis lintang menyempit.

Perbedaan itu mendorong apa yang disebut peneliti jet stream. Saat suhu menurun, jet stream melambat dan makin bergelombang pada arus utara-selatan dari arus biasanya timur-barat.

Gelombang itu bahkan dapat terjebak dalam contoh yang berlangsung lebih lama daripada contoh yang terjadi beberapa tahun silam.

Saat kondisi itu terjadi, gelombang jet stream melambat dan membesar akhir pengerasan Kutub Utara. Gelombang ini lalu bergerak ke timur lebih lambat, sehingga cuaca terkait gelombang ini dapat bertahan lebih lama.

Sumber :
viva