Qada dan Qadar Tuhan Swt.

0
15

Untuk memahami pengertian iman kepada qada dan qadar, kita perlu memahami pengertian iman terlebih dahulu. Iman berarti membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Qada dan qadar secara sederhana diartikan dengan keputusan atau ketetapan dari Allah. Dengan demikian, beriman kepada qada dan qadar berarti membenarkan dengan hati ihwal keputusan atau ketetapan Tuhan Swt. yang diikrarkan dengan verbal dan dibuktikan dengan amal perbuatan. 

Iman kepada qada dan qadar merupakan bab rukun iman. Ada beberapa dalil yang menjelaskan ihwal iman kepada qada dan qadar. Salah satunya dalam hadis sebagaimana dijelaskan Rasulullah yang diceritakan oleh Umar r.a., ”Suatu kali kami (Umar r.a. dan para sahabat) tengah berada dalam sebuah majelis bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba tampak di tengah kami seorang laki-laki yang berpakaian serba putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Selanjutnya, ia duduk di hadapan Rasulullah serta menyandarkan lututnya pada lutut Nabi (Muhammad) dan meletakkan tangannya di atas paha Nabi (Muhammad).

Selanjutnya ia berkata, ”Hai Muhammad, beri tahukan kepadaku ihwal Islam!” Rasulullah saw. menjawab, ”Islam itu, engkau bersaksi bahwa bahwasanya tiada Tuhan selain Tuhan dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan, dan mengerjakan haji ke Baitullah kalau engkau bisa melakukannya.”

Orang itu berkata, ”Engkau benar.” Kami pun heran, ia bertanya kemudian membenarkan. Orang itu berkata lagi, ”Beri tahukan kepadaku ihwal iman!” Nabi saw. menjawab, ”Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari kiamat, dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Berkatalah orang tadi, ”Engkau benar.”. . . . (H.R. Muslim)

Hadis yang diceritakan di depan dengan terang menempatkan takdir atau qada dan qadar sebagai salah satu rukun iman. Dengan demikian, seseorang yang beriman kepada Tuhan Swt., malaikat, kitab, rasul, dan hari akhir, belum tepat kalau tidak beriman kepada takdir atau qada dan qadar Tuhan Swt. Beriman kepada qada dan qadar Tuhan Swt. berarti meyakini adanya ketetapan-Nya yang berlaku terhadap seluruh makhluk.

Ciri-Ciri Iman kepada Qada dan Qadar Tuhan Swt.
Iman kepada qada dan qadar harus dilakukan secara sempurna, yaitu dengan meyakini dalam hati, diikrarkan dengan verbal dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Seseorang yang beriman kepada qada dan qadar harus dapat membuktikannya dengan berinfak kebajikan dalam hidup sehari-hari. Seseorang yang beriman kepada qada dan qadar Tuhan Swt. dapat dilihat dari tingkah laku dan perbuatannya. Secara khusus, iman kepada qada dan qadar dapat ditunjukkan dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a. Rajin Beribadah
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan qada dan qadar Tuhan Swt. yang tidak dapat ditolak oleh makhluk. Keyakinan yang mantap terhadap qada dan qadar Tuhan akan mendorong seseorang semakin giat dalam beribadah. Beribadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Swt. Dengan kebesaran dan kehendak Tuhan Swt., kita menjadi tidak ragu lagi untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
b. Meyakini Kebesaran Allah
Seseorang yang beriman kepada qada dan qadar Tuhan berarti telah meyakini kebesaran-Nya. Apa pun yang menjadi ketetapan Tuhan Swt. merupakan keputusan terbaik di sisi-Nya sehingga kita dilarang menyalahkan atau berkeluh kesah. Ketetapan Tuhan Swt. bagi insan merupakan yang terbaik baginya. Musibah yang menimpa merupakan cobaan dan insan pasti bisa menanggungnya. Oleh alasannya ialah Tuhan Swt. tidak akan menurunkan cobaan kalau makhluk tidak bisa menanggungnya.
c. Bersungguh-sungguh dalam Bekerja
Untuk mencapai apa pun yang kita inginkan harus disertai usaha dan kerja keras. Keimanan kepada qada dan qadar mendorong seseorang untuk bekerja keras. Hal ini alasannya ialah tidak ada seorang pun yang mengetahui dengan pasti qada dan qadar Tuhan Swt. yang akan terjadi. Dengan demikian, seseorang terdorong untuk berusaha dan bekerja keras dengan impian memperoleh hasil yang terbaik dari Tuhan Swt. Bayangkan kalau seseorang telah mengetahui suatu hasil sebelum usaha dilakukan, ia akan menjadi malas untuk berusaha.
d. Bertawakal kepada Tuhan Swt.
Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Qada dan qadar-Nya berlaku bagi semua makhluk tidak hanya bagi manusia. Oleh alasannya ialah itu, mengimani qada dan qadar Tuhan Swt. membimbing kita untuk
selalu bertawakal, yaitu berserah diri kepada Tuhan Swt. setelah usaha maksimal dilakukan. Bertawakal kepada Tuhan Swt. dilakukan alasannya ialah hanya Dia yang berkuasa untuk mewujudkan segala sesuatu. Iman kepada qada dan qadar Tuhan Swt. harus sekaligus mengimani bahwa Dia dengan segala kekuasaan-Nya. Misalnya, mengimani Tuhan Swt. sebagai Zat Yang Mahatahu dan menguasai ilmu, ketetapan-ketetapan-Nya, dan kehendak-Nya yang tidak tergantung pada makhluk, serta kemampuan dalam mencipta dan mengatur makhluk-Nya.