Fathul Mekkah Tahun 9 Hijriyah.


Fathul Makkah artinya penaklukan kota Mekkah, terjadi pada tahun delapan hijriyah, Rasulullah memutuskan untuk menaklukkan kota Mekkah. Sebab-sebab terjadinya Fathul Makkah yaitu karena kaum Quraisy telah mengkhianati perjanjian Hudaibiyah. Maka, pada tanggal 10 Ramadhan, dia berangkat bersama puluhan ribu (10.000) pasukan menuju Mekkah. Kaum muslimin memasuki Mekkah tanpa terjadi peperangan, di mana kaum Quraisy mengalah dan tidak melaksanakan perlawanan karena banyak sekali sebab. Abbas mengajak Abu Sufyan untuk mengalah kepada Nabi Muhammad Saw. dan menyatakan keislamannya.

Setelah Abu Sufyan memeluk Islam, ia diberi kehormatan oleh Rasulullah Saw. dengan menyatakan ”barang siapa di antara kaum Quraisy yang memasuki rumah Abu Sufyan akan aman, barang siapa yang masuk Masjidil Haram akan aman, dan barang siapa yang akan menutup pintunya akan aman pula”. Tuhan Swt. telah menunjukkan kemenangan kepada kaum muslimin. Lalu Rasulullah Saw. menuju Ka’bah untuk melaksanakan thawaf dan shalat dua rakaat di dalamnya. Setelah itu, dia menghancurkan berhala-berhala yang ada di dalam Ka’bah dan sekitarnya. Pada waktu penghancuran turunlah ayat dalam surat Al-Isra ayat 81 : Artinya : “Dan Katakanlah: «Yang benar Telah datang dan yang batil Telah lenyap». Sesungguhnya yang batil itu yaitu sesuatu yang pasti lenyap.”
(QS. Al-Isra : 81)

Rasulullah Saw bangkit di pintu Ka’bah sedangkan kaum Quraisy berbaris di masjid Haram menantikan apa yang akan dilakukan Rasulullah. Rasulullah berkata kepada kaum Quraisy: “Wahai kaum Quraisy, apakah yang akan saya lakukan terhadap kalian?” Mereka menjawab: “Kebaikan (engkau) saudara yang baik dan anak dari saudara yang baik pula” Rasulullah berkata: “Pergilah!, kalian telah bebas”. Rasulullah telah menunjukkan contoh yang agung dalam memaafkan musuh-musuhnya yang telah menyiksa, menyakiti, membunuh para sahabatnya, dan mengusir dari kampung halamannya.

Setelah penaklukan kota Mekkah, insan berbondong-bondong memeluk Islam. Pada tahun kesepuluh hijriyah, Rasulullah melaksanakan haji dan itulah satu-satunya haji yang dilakukan dia bersama seratus ribu orang, dan setelah itu dia kembali ke Madinah.