Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Ia lahir 12 April 1912 di Yogyakarta, dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun. Ayahnya Hamengku Buwono VIII, sedang ibunya Raden Ayu Kustilah. Pendidikan formalnya dimulai dengan taman kanak kanak. Usia 6 tahun ia memasuki sekolah dasar. Selama menempuh pendidikannya, ia berpindah-pindah daerah kos dan sekolah, mulai dari Semarang, Bandung, dan Belanda.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Ia berguru hukum tata negara di Belanda, tapi tidak selesai alasannya dipanggil pulang ayahandanya. Sewaktu tiba di Batavia, ia mendapatkan keris Joko Piturundari Sultan Hamengku Buwono VIII, ayahnya. Ini merupakan petunjuk bahwa ia kelak akan menjadi raja, menggantikan ayahnya.
Setibanya di Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono VIII masuk rumah sakit alasannya penyakit gulanya, dan tidak lama kemudian meninggal dunia.Dorodjatun, lalu diangkat menjadi pengganti, sebagai Raja Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, pada tanggal 18 Maret 1940.
Saat ia menjadi raja, Indonesia sudah dijajah Belanda. Waktu itu Belanda sering memaksakan perjanjian yang merugikan pihak keraton dan rakyat banyak. Saat Indonesia dijajah Jepang, ia sering bersitegang dengan Jepang.
Ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, segera ia mengirim surat kawat kepada para proklamator dan KRT Radjiman Wediodiningrat. Isinya menyatakan kesanggupannya bangun di belakang pemimpin Republik Indonesia. Secara tegas ia mengatakan bahwa Yogyakarta menjadi Daerah Istimewa yang eksklusif bertanggung jawab kepada Presiden Republik Indonesia. Ketika Jakarta tidak aman, KeratonYogyakarta bahkan dijadikan kantor tentara.
Ketika Belanda datang kembali, ia menganjurkan biar Pemerintah Indonesia pindah ke Yogyakarta. Ini terjadi tanggal 4 Januari 1946. Ketika Belanda dapat menguasai Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX tetap menawarkan kesetiaannya kepada Republik Indonesia.
Sri Sultan pertama kali menjadi anggota kabinet, dalam Kabinet Syahrir tahun 1946, sebagai Menteri Negara Urusan Keamanan. Sejak itu ia sering duduk dalam pelbagai kabinet hingga menjadi Wakil Presiden tahun 1973 – 1978. Sampai wafatnya, ia menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
Selain jabatannya di pemerintahan, Sri Sultan juga menjadi ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Komite Olahraga Nasional Indonesia, dan lain-lain.
Selain sebagai politikus dan negarawan yang baik, bidang kesenian dan kebudayaan pun ia kuasai dengan baik. Di masa cerdik balig cukup akal ia aktif mencipta tari, antara lain tari Golek Menak, yang berpedoman pada dongeng Menak. Tanggal 3 Oktober 1988, Sri Sultan meninggal dunia di Washington, Amerika Serikat. Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Saptorenggo, yang merupakan makam raja Mataram di Imogiri. Upacara yang mengantarkannya ke peristirahatan terakhir, dihadiri oleh semua lapisan masyarakat, tidak hanya masyarakat Yogyakarta sendiri, tapi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk menghormatinya, pemerintah mengumumkan hari berkabung nasional selama seminggu.
Mangkubumi, putra sulung Sri Sultan Hamengku Buwono IX kemudian ditunjuk sebagai penggantinya untuk memimpin Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X. Adapun sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ialah Sri Paku Alam VIII.